Beranda » E-Proper

Latsar CPNS. OPTIMALISASI PENGETAHUAN PENCEGAHAN STUNTING PADA REMAJA PUTRI MELALUI SOSIALISASI DAN KEPATUHAN MINUM TABLET TAMBAH DARAH (FE) DI SMAN 1 BELIMBING
Diana Shinta, A.Md.Gz | BPSDMD Provinsi Sumatera Selatan | Tahun 2022

Abstrak

 Latar Belakang
    Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah pegawai negeri sipil dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang bekerja pada instansi pemerintah, diangkat oleh pejabat pembina kepegawaian dan diserahi tugas dalam suatu jabatan pemerintahan atau diserahi tugas negara lainnya dan digaji berdasarkan peraturan perundang-undangan (UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN).
   Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara mengamanatkan Instansi Pemerintah untuk wajib memberikan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) terintegrasi bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama 1 (satu) tahun masa percobaan. Tujuan dari Diklat terintegrasi ini adalah untuk membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang.
    Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil   (CPNS) merupakan salah satu jenis diklat yang strategis untuk mewujudkan PNS sebagai bagian dari ASN yang  profesional  serta  upaya  pemeliharaan dan peningkatan mutu Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Dalam pelaksanaannya, pelatihan ini memadukan metode pembelajaran klasikal dan nonklasikal. Selain agenda pembelajaran pembentukan karakter, peserta juga diharapkan mampu mengaktualisasikannya melalui proses habituasi. Kegiatan aktualisasi bertujuan agar peserta dapat berkontribusi nyata dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di unit kerja secara profesional berlandaskan Nilai-Nilai Dasar yaitu Berorientasi palayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif dan Kolaboratif (BERAKHLAK) sehingga memberikan dampak positif terhadap peningkatan pelayanan (Permenpan No 20, 2021)  Kompetensi yang dibangun dalam Latsar CPNS Golongan II ini adalah kompetensi PNS sebagai pelayan masyarakat yang profesional, yang diindikasikan dengan kemampuan:
1.  Menunjukkan sikap perilaku bela negara;  
2.  Mengaktualisasikan   nilai-nilai   dasar   PNS   dalam   pelaksanaan   tugas jabatannya;
3.  Mengaktualisasikan kedudukan dan peran PNS dalam kerangka NKRI;
4.  Menunjukkan penguasaan kompetensi teknis yang dibutuhkan sesuai bidang tugas; dan
5.  Memiliki kemampuan untuk menganalisis dampak dari kegiatan aktualisasi di unit kerja.
    Di era globalisasi masyarakat semakin kritis terhadap segala aspek, termasuk terhadap mutu pelayanan kesehatan yang berkualitas. Sejalan dengan peningkatan pengetahuan dan tekhnologi maka kebutuhan serta tuntutan masyarakat terhadap mutu pelayanan kesehatan juga semakin meningkat. Baik pelayanan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, maupun rehabilitative. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan masyarakat terhadap kesehatan telah semakin meningkat. Maka dari itu perlu pelayanan kesehatan yang tepat, cepat dan akurat di puskesmas dengan berdasarkan nilai-nilai dasar BERAKHLAK.
    Sebagai seorang Nutrisionis, penulis memiliki tugas pokok untuk melaksanakan pelayanan di bidang gizi yang meliputi pengamatan, penyusunan program, pelaksanaan, penilaian gizi bagi perorangan, kelompok di masyarakat dan rumah sakit maupun di institusi kesehatan lainnya. Sedangkan fungsinya adalah bersama dengan lintas program dan lintas sektor untuk saling mendukung dalam meningkatkan pelayanan gizi pada publik.
    Menurut World Health Organization (WHO), stunting adalah gangguan perkembangan pada anak yang disebabkan oleh gizi buruk, infeksi yang berulang, dan simulasi psikososial yang tidak memadai. Apabila seorang anak memiliki tinggi badan lebih dari -2 standar deviasi median pertumbuhan anak yang telah ditetapkan oleh WHO, maka ia dikatakan mengalami stunting.  Masalah stunting di Indonesia adalah ancaman serius yang memerlukan penanganan yang tepat. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) pada tahun 2019, prevelensi stunting di Indonesia mencapai 27,7%. Artinya, sekitar satu dari empat anak balita (lebih dari delapan juta anak) di Indonesia mengalami stunting. Angka tersebut masih sangat tinggi jika dibandingkan dengan ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 20%.  Stunting tidak dapat diatasi jika sudah terjadi, yang dapat kita lakukan adalah melakukan pencegahan agar tidak terjadinya stunting. Pencegahan stunting dapat diintervensi melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif pada sasaran 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) sampai anak usia 6 tahun.  
    Yang dimaksud masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan adalah masa 9 bulan kehamilan hingga anak usia 2 tahun. Namun sebenarnya untuk melahirkan anak yang sehat, sebelum masa 1.000 HPK terjadi, yaitu pada masa remaja, calon ibu harus sudah memerhatikan asupan gizinya  mengapa perlu dilakukannya pencegahan terhadap remaja putri, Ini terkait dengan masalah anemia yang sering dialami remaja putri, terutama pada saat haid. Dikhawatirkan, anemia yang tidak teratasi dan terbawa hingga masa kehamilan bisa mengganggu kesehatan janin, termasuk meningkatkan risiko stunting.
    Terkait dengan siklus menstruasi setiap bulan, remaja putri jadi lebih mudah terkena anemia. Anemia juga terkadang disebabkan diet yang terlalu ketat. Masalahnya, anemia yang tidak teratasi dan terbawa hingga saat hamil nanti bisa berpengaruh pada calon bayi dan meningkatkan risiko terkena stunting.  
    Buat yang sering merasakan gejala anemia seperti mudah lelah, mata berkunang, hingga pusing sebaiknya mulai mengonsumsi tablet tambah darah (TTD). Tidak hanya zat besi, TTD juga mengandung asam folat yang berguna menurunkan risiko kelahiran bayi cacat nantinya.  Penanganan masalah stunting dan Anemia ini tidak dapat dilakukan hanya dari sektor kesehatan saja, tetapi memerlukan kepedulian dari sektor luar kesehatan misalnya sekolah. Oleh karena itu dalam mengatasi stunting di wilayah kerja UPTD Puskesmas Teluk Lubuk, penulis melakukan beberapa kegiatan pencegahan seperti pemberian sosialisasi pencegahan stunting sejak dini serta pemberian tablet Fe pada remaja putri. Berdasarkan masalah tersebut maka penulis mencoba mengaktualisasikan laporan kegiatan dengan judul “Optimalisasi pengetahuan pencegahan stunting pada remaja putri melalui sosialisasi dan kepatuhan minum tablet tambah darah (Fe) di SMAN 1 Belimbing”. Laporan kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian proses pembelajaran selama mengikuti Latsar CPNS Golongan II dengan menerapkan ilmu dan nilai-nilai yang telah didapatkan selama mengikuti pelatihan sehingga mampu memberikan perubahan yang bermanfaat untuk UPTD Puskesmas Teluk Lubuk.

Download
  • Visitor Hari ini: 139
  • Kemarin: 164
  • Bulan ini: 2840
  • Tahun ini: 45500