Beranda » E-Proper

OPTIMALISASI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE KELAS 2 DI SD NEGERI 11 TANAH ABANG
Dwinta Sari Hasana, S.Pd | BPSDMD Provinsi Sumatera Selatan | Tahun 2021

Abstrak

A. Latar Belakang

Aparatur Sipil Negara (ASN) yang merupakan bagian dari aparatur negara harus  memiliki komitmen dalam melayani masyarakat. Ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 untuk mewujudkan tujuan nasional dibutuhkan pegawai ASN yang dapat menjalankan tugas pelayanan publik, tugas pemerintah, dan tugas pembangunan tertentu. Pegawai ASN harus memiliki kualifikasi kompetensi, dan kinerja yang dibutuhkan sesuai dengan jabatannya masing-masing.

Pendidikan dan Pelatihan merupakan pembekalan komprehensif agar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) mempunyai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan untuk melaksanakan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara. Tujuan dari aktualisasi pelatihan dasar (Latsar) CPNS adalah menginternalisasikan nilai-nilai dasar profesi ASN yaitu nilai Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, Anti Korupsi (ANEKA) serta nilai-nilai pada agenda Kedudukan dan Peran PNS dalam Negara Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu Manajemen ASN, Pelayanan Publik dan Whole of Government sehingga seorang PNS memiliki nilai kejujuran, keadilan, kedisiplinan, berintegritas dan profesional.

Pendidikan memegang peranan yang penting dalam pembangunan di setiap negara, sebab dengan adanya pendidikan sumber daya manusia dapat berkembang menuju ke arah yang lebih baik. Pendidikan merupakan cerminan dari kualitas suatu bangsa. Suatu negara dikatakan berkembang maju atau tidak, salah satunya dapat dilihat dari seberapa tinggi kualitas pendidikan yang ada dalam suatu negara tersebut. Untuk menciptakan mutu pendidikan yang baik memerlukan proses pendidikan, Dalam kegiatan proses pendidikan kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling penting, berhasil tidaknya tujuan pendidikan banyak bergantung pada proses belajar yang dialami oleh peserta didik.

Guru sebagai pendidik memiliki peran yang besar dalam pendidikan, karena di dalam sekolah pendidiklah yang diberi tanggung jawab untuk mengajarkan peserta didik, disamping sebagai pembimbing untuk mengarahkan dan melatih peserta didiknya sehingga menjadi manusia yang mempunyai pengetahuan luas baik pengetahuan agama, kecerdasan, ketrampilan, budi pekerti luhur dan kepribadian baik sehingga bisa membangun dirinya untuk lebih baik dari sebelumnya serta memiliki tanggung jawab besar dalam pembangunan bangsa. Pendidik juga bertanggung jawab untuk memfasilitasi pembelajaran peserta didik agar mereka memperoleh pengalaman belajar yang nyata atau biasa disebut sebagai fasilitator dalam pembelajaran, hal ini adalah amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Peran guru dalam proses pembelajaran tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada peserta didik, tetapi peserta didik harus membangun sendiri pengetahuannya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini dengan memberikan kesempatan peserta didik menemukan dan menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar peserta didik menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untuk belajar.

Proses pembelajaran harus dengan sengaja, diorganisasikan dengan baik agar dapat menumbuhkan proses belajar yang baik untuk dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Dalam proses pembelajaran, peserta didik akan memperoleh hasil belajar yang merupakan kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya yaitu proses pembelajaran akan berhasil apabila proses pembelajaran yang terjadi berjalan dengan baik dan lancar pada seluruh mata pelajaran.

Untuk menghadirkan hal tersebut tentunya seorang guru haruslah memiliki inovasi dalam menciptakan situasi belajar yang dapat menimbulkan keterlibatan peserta didik. Salah satu inovasi yang dapat dilakukan oleh seorang guru adalah dengan menerapkan berbagai model pembelajaran. Dengan menerapkan berbagai model pembelajaran secara tidak langsung guru telah menstimulus peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Karena apabila model pembelajaran monoton di dalam suatu pembelajaran maka akan mengakibatkan minimnya keikutsertaan dan keterlibatan peserta didik.

Sebagai seorang guru yang bertugas di SD Negeri 11 Tanah Abang dimana proses pembelajaran selama ini masih berpusat pada guru atau pendidik (teacher centered), guru menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi untuk menyampaikan materi pelajaran di kelas. Keterbatasan pengetahuan guru sebagai pendidik tentang berbagai macam model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran juga menjadi salah satu sebab sulit terciptanya pembelajaran yang menarik, kreatif, aktif dan inovatif. Penggunaan media pembelajaran yang digunakan masih minim disamping itu peserta didik juga sudah terbiasa dengan kebiasaan lama yaitu masih tergantung pada penjelasan yang diberikan guru. Hal ini yang membuat guru lebih cenderung menggunakan metode konvensional. Pembelajaran yang monoton akan membuat tingkat ketertarikan peserta didik dalam belajar berkurang, peserta didik jarang sekali mengungkapkan kesulitannya sehingga guru mempunyai asumsi bahwa peserta didik sudah memahami materi yang diajarkan.

Melatarbelakangi hal tersebut, penulis dalam perannya sebagai guru harus mampu meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah, salah satunya dengan mengoptimalkan penggunaan model pembelajaran. Selain itu, guru yang merupakan pendidik, juga diharapkan bisa menjadi teladan di lingkungan SD Negeri 11 Tanah Abang yang mampu menumbuhkan dan menyebarkan nilai-nilai ANEKA, membantu memperbaiki pelayanan publik dan dapat membantu memberikan solusi untuk mengatasi masalah-masalah yang ada di unit kerja tersebut.

Download
  • Visitor Hari ini: 215
  • Kemarin: 316
  • Bulan ini: 224
  • Tahun ini: 35952